Menjemput Pelangi
Kebahagiaan itu ibarat pelangi, tidak akan pernah di dapat jika
tanpa adanya jemputan, jadi jemput saja bahagia milik kita masing
masing,definisinya pun berbeda, tidak akan pernah berbahagia kita jika tanpa
ikhlas dan syukur atas keadaan dan kondisi yang kita tuai. Lalu seperti apa
definisi pelangi milik kita masing masing? Hanya kita yang mengetahui, maka
jemputlah hal hal itu
Part 1 :Bertemu
Jam di tangan Fara berdetak lebih
cepat, ia mulai panik bercampur bosan karena hampir 1 jam dirinya menunggu
kakaknya yang tak kunjung datang, hiruk pikuk pedagang kaki lima memenuhi jalan
yang tadinya sepi menjadi ramai karena kehadiran mereka, beberapa menit
kemudian dirinya menghela nafas lega,karena mobil sedan putih milik sang empu
yang ditunggu tiba dan mulai memarkirkan mobilnya tepat didepan dirinya
“ hi …bother..soo long to waiting
you.” Jelas Fara dengan bermuka masam
“ sorry ,,tadi mas beli makanan
dulu,karena bunda telepon,di rumah sedang ada tamu.” Jelas Raka sambil mengajak
fara naik mobil
“ tamu,,siapa mas? Jelas Fara
sambil mulai mengeluarkan kertas yang nantinya akan di edit
“temanya bunda,eh..kamu mau ke
penerbit apa mau pulang?” Tanya Raka
“ pulang dulu lah mas,nanti fara
naek angkot juga g papa ke penerbitnya.” Jelas Fara tak mau membebani antar
jemput masnya
Perjalanan
panjang selalu menghadirkan berbagai potong kisah, terutama tentang keluarga
yang sudah 5 tahun ini di tinggal ayah pergi dan hilang ditelan waktu dan kabar,
sehingga mereka tak mendengar sedikitpun tentang keberadaan ayahnya, Fara hanya
mengetahui bahwa ayah sedang mencari nafkah di negri seberang sana,entah itu
suatu kebenaran ataupu hanya ilusi yang bunda ciptakan agar anak anaknya tidak kecewa terhadap ayah, alhasil kami semua
mencoba untuk mencari uang sendiri untuk segala kebutuhan,daripada menunggu
kiriman dari ayah mereka yang tak kunjung datang, meskipun begitu bunda masih
percaya bahwa ayah sibuk bekerja di luar sana, Bunda memang memiliki hati yang
tegar, untuk tetap percaya dan menunggu hingga kepulangan ayah tiba.dan saat
ini yang mampu fara lakukan untuk mencari uang adalah dengan menulis lembar
perlembar kata yang berkembang menjadi berbagai kisah yang bersumber dari
segala khayalnya serta imajinasi buatan miliknya
“dek,makananya di bawa yaa…mas mau
langsung ke tempat kerja lagi.” Jelas Raka sambil tersenyum
“ oke..hati-hati yaa mas.” Balas
Fara
Ku lihat di depan halaman
rumahku,ada mobil sedan putih ,aku pun bertanya-tanya sendiri,siapakah tamu
ini,apa ayah yang telah kembali ,karena aku tak pernah melihat mobil ini datang
ke rumahku sebelumya,jika ayahku kenapa mas akmal tidak bercerita akan
kedatangan ayahku,entah jika itu ayahku,mungkin aku tak ingin menebar senyum
kepadanya karena dia terlalu tega meninggalkan kami tanpa adanya kabar dari nya
selama bertahun-tahun,aku belum berani memasuki ruang tamu,masih terdiam dengan
khayalan tentang ayahku yang datang kembali,aih..lagi-lagi khayalanku tidak
tepat pada saat ini,aku pun memberanikan masuk ruang tamu itu.
" assalamualaikum, bunda..." jelasku dengan perasaan gugup
" wa' alaikum salam,knapa berdiri saja..sini masuk." Jelas bundaku,tersenyum kepadaku.
Ku beranikan langkah ini memasuki ruang tamu dan ku mulai menatap wajah tamu yang berada tepat di depanku.
" fara.....sudah besar ya sekarang?? Tanya tamu itu seolah sudah lama mengenalnya
"Alhamdulilah, sekarang fara sudah memasuki masa kuliah." jelas ibunya sembari menyuruhku untuk duduk
Dihadapannya seorang wanita berumur sekitar 20 an memiliki wajah yang sendu ketika di pandang,suaranya tegas seperti prajurit wanita romawi zaman dahulu,kerudung pink yang ia kenakan menambah rona wajahnya yang berwarna sawo matang. wajahnya tampak tak asing baginya namun beberapa kali ia mengingat tak kunjung juga dirinya mengetahui nama gadis yang nampak sempurna ini
"Iya tante, maaf bun,fara harus langsung ke penerbit karena hari ini terakhir pengumpulan deadline." jelasnya dengan nada tergesa gesa karena tetiba bayangan deadline menghantui ingatanku
" ya sudah kalau begitu hati hati ya dijalan." jelas bunda sambil mengambil jajanan yang di berikan mas kepadaku
Panas nya kota jogja beberapa waktu ini membuat banyak orang untuk lebih melakukan aktivitas di dalam ruangan, begitu pula diriku yang lebih memilih naik angkot untuk ke penerbit di banding mengendarai motor yang ada di rumah. Terutama waktu siang,matahari seperti berada tepat di atas kepala ini. Teringat bunda jika dahulu dirinya sering mengeluh karena panas yang tak tertahankan pasti beliau selalu menasehati nya
" nok, belum ke arab aja kok sudah sambat, di arab itu panasnya lebih daripada di sini." jelas bunda sambil geleng geleng kepala mendengar keluhan dirinya
" ya udah bun, fara ke sana nya kalo arab udah dingin aja." jelasnya membalas komentar bunda
Di dalam angkot dia tertawa kecil ketika mengingat percakapan dirinya dengan bunda, semudah itu dahulu dia berkata padahal keadaan dan iklim tidak dapat berubah sesuai kehendak kita. Tanpa dia sadari supir angkot sudah mengetuk pintu angkot sambil menyebut nama redaksi yang ia tuju
" assalamualaikum" sapanya ketika tiba di ujung bagian informasi
" waalaikum salam, ya Allah fara baru ini kamu keliatan." sahut mbk sofia yang biasa menjaga bag informasi dia pun langsung memeluk fara seakan seabad lamanya gadis ini tak berjumpa dengannya
" iya mbk lagi persiapan deadline di tambah kuliah lagi padat" jelasnya sambil tersenyum melihat tingkah laku mbk sofia
"Eh, iya lupa ra, selama kamu sebulan nggak ke sini,yang gantiin pak arya buat bagian publisher itu mas hafizh." Jelasnya sambil memberikan nomer antri kepada fara
" loh pak arya kemana mbk? Tanyanya penasaran masih menunggu jawaban dari mbk sofia yang masih riweh dengan komputer yang ada di sampingnya
" ada kerjaan sementara di cilacap, tiba tiba tim redaksi minta beliau ke sana" jelas nya terdiam sesaat
" wah padahal pak arya berkompeten banget mbk, apalagi sama penulis naskah, dia bisa sangat mengayomi kita seperti keluarganya sendiri." sesal fara karena tidak sempat menemuinya sebelum beliau pergi
Pak aryo sangat baik di mata para karyawan redaksi, bahkan penulis naskah pun selalu di bimbing dan di bantu layaknya saudara beliau.banyak yang merasa keberatan saat beliau tiba tiba mendapat panggilan dari tim redaksi untuk dipindah tugaskan.
" assalamualaikum, bunda..." jelasku dengan perasaan gugup
" wa' alaikum salam,knapa berdiri saja..sini masuk." Jelas bundaku,tersenyum kepadaku.
Ku beranikan langkah ini memasuki ruang tamu dan ku mulai menatap wajah tamu yang berada tepat di depanku.
" fara.....sudah besar ya sekarang?? Tanya tamu itu seolah sudah lama mengenalnya
"Alhamdulilah, sekarang fara sudah memasuki masa kuliah." jelas ibunya sembari menyuruhku untuk duduk
Dihadapannya seorang wanita berumur sekitar 20 an memiliki wajah yang sendu ketika di pandang,suaranya tegas seperti prajurit wanita romawi zaman dahulu,kerudung pink yang ia kenakan menambah rona wajahnya yang berwarna sawo matang. wajahnya tampak tak asing baginya namun beberapa kali ia mengingat tak kunjung juga dirinya mengetahui nama gadis yang nampak sempurna ini
"Iya tante, maaf bun,fara harus langsung ke penerbit karena hari ini terakhir pengumpulan deadline." jelasnya dengan nada tergesa gesa karena tetiba bayangan deadline menghantui ingatanku
" ya sudah kalau begitu hati hati ya dijalan." jelas bunda sambil mengambil jajanan yang di berikan mas kepadaku
Panas nya kota jogja beberapa waktu ini membuat banyak orang untuk lebih melakukan aktivitas di dalam ruangan, begitu pula diriku yang lebih memilih naik angkot untuk ke penerbit di banding mengendarai motor yang ada di rumah. Terutama waktu siang,matahari seperti berada tepat di atas kepala ini. Teringat bunda jika dahulu dirinya sering mengeluh karena panas yang tak tertahankan pasti beliau selalu menasehati nya
" nok, belum ke arab aja kok sudah sambat, di arab itu panasnya lebih daripada di sini." jelas bunda sambil geleng geleng kepala mendengar keluhan dirinya
" ya udah bun, fara ke sana nya kalo arab udah dingin aja." jelasnya membalas komentar bunda
Di dalam angkot dia tertawa kecil ketika mengingat percakapan dirinya dengan bunda, semudah itu dahulu dia berkata padahal keadaan dan iklim tidak dapat berubah sesuai kehendak kita. Tanpa dia sadari supir angkot sudah mengetuk pintu angkot sambil menyebut nama redaksi yang ia tuju
" assalamualaikum" sapanya ketika tiba di ujung bagian informasi
" waalaikum salam, ya Allah fara baru ini kamu keliatan." sahut mbk sofia yang biasa menjaga bag informasi dia pun langsung memeluk fara seakan seabad lamanya gadis ini tak berjumpa dengannya
" iya mbk lagi persiapan deadline di tambah kuliah lagi padat" jelasnya sambil tersenyum melihat tingkah laku mbk sofia
"Eh, iya lupa ra, selama kamu sebulan nggak ke sini,yang gantiin pak arya buat bagian publisher itu mas hafizh." Jelasnya sambil memberikan nomer antri kepada fara
" loh pak arya kemana mbk? Tanyanya penasaran masih menunggu jawaban dari mbk sofia yang masih riweh dengan komputer yang ada di sampingnya
" ada kerjaan sementara di cilacap, tiba tiba tim redaksi minta beliau ke sana" jelas nya terdiam sesaat
" wah padahal pak arya berkompeten banget mbk, apalagi sama penulis naskah, dia bisa sangat mengayomi kita seperti keluarganya sendiri." sesal fara karena tidak sempat menemuinya sebelum beliau pergi
Pak aryo sangat baik di mata para karyawan redaksi, bahkan penulis naskah pun selalu di bimbing dan di bantu layaknya saudara beliau.banyak yang merasa keberatan saat beliau tiba tiba mendapat panggilan dari tim redaksi untuk dipindah tugaskan.
“eh, mbk ini antri dulu apa
langsung ketuk pintu saja? Tanya fara seketika ingat antri, karena biasanya
antrian berjubel karena hari pengumpulan deadline naskah
“ langsung masuk aja mbk, lha wong
sepi kantor dari tadi.” Jelas mbk Shofia khas dengan logat jawanya yang medok
Fara tertawa kecil mendengarkan
logat jawa mbk sofia, ia sudah menganggap kru dalam penerbit itu sebagai
keluarga dan sanak saudaranya, tapi beberapa bulan ini dirinya menghilang
karena banyak hantaman pikiran sehingga menyulitkan dirinya dalam menyelesaikan
deadline. Ia masih terpaku di depan pintu, tidak biasanya pintu tertutup dan sepi
tanpa penghuni, matanya masih celingak celingukan melihat kondisi di dalam
ruangan.
Tiba tiba pintu dihadapanya
terbuka tepat dihadapanya, seorang laki laki yang baru saja menggantikan posisi
pak Arya kini tepat berada didepannya, dengan menatapnya keheranan
“ Assalamualaikum.” Sapa mas
hafizh yang masih berdiri di tempatnya
“eh..iya mas, waalaikumsalam”
jawabnya masih dalam keadaan terkejut
“mbk nya ada urusan dengan pak
aryo atau bagaimana? Tanyanya masih mengaitkan nama pak Aryo, mungkin karena
sebagian orang masih bingung dengan pergantian yang terlalu cepat.
“perkenalkan nama saya fara
azzahra, saya ke sini mau menyerahkan pengumpulan deadline, mengingat hari ini
adalah hari terakhir pengumpulan deadline naskah, dan alhamdulilah saya sudah
tau kalo pak aryo sudah berpindah tugas digantikan oleh mas hafidz.” Jawab nya,
sekaligus menjawab pertanyaan yang nantinya akan dilontarkan Hafidz
“oh iya, alhamdulilah hanya
sementara kok pindah tugasnya, monggo masuk dulu, saya mau lihat lihat naskah
anda.” Jelasnya sambil mempersilahkan fara masuk ruangan
“jadi hanya sementara mas? Tanya
fara sekedar basa basi
“iya, saya hanya menggantikan
sekitar 3 bulan, dikarenakan posisi disana masih membutuhkan kehadiran pak
Aryo.” Jelasnya singkat
Fara lalu menyerahkan beberapa
naskah dan juga alamat blog yang ia telah lama tulis, biasanya pak aryo akan
mengoreksi pada bagian naskah dan blog milik sang penulis
“sudah berapa lama
nulis di penerbit ini?” Tanya hafizh sambil membaca lembaran naskah secara acak
“2 sampai 3 tahunan
mas.” Jelas fara sambil mengingat ingat kembali kapan dia mulai magang dan
akhirnya resmi menjadi penulis di tempat ini
“alhamdulilah
sudah lumayan lama juga anda bergabung di sini, berarti tingkat kepenulisan
anda sudah tidak diragukan lagi ya.” Jelasnya sambil merapikan naskah yang
tidak beraturan tadi
“tidak juga
mas, saya masih perlu mendapatkan bimbingan lebih banyak lagi.” Jawab fara
“kalau saya
boleh Tanya, sebenarnya synopsis singkat dari cerita ini apa mbk?” jelas Hafizh
dengan nada bicara serius
“sesuai
judulnya mas, cerita yang kali ini saya buat itu tentang permintaan gadis
kepada ayahnya, ayahnya yang tak kunjung pulang dari perantauan, derita
sesungguhnya yang dihadapi gadis ini bukanlah semata masalah finansial atau hal
hal yang menyangkut ekonomi, tetapi lebih kepada kepergiaan ayahnya yang tanpa
kabar itu adalah derita sesungguhnya bagi gadis di cerita ini.” Jelas fara
tanpa berani menatap orang yang berada di hadapanya
“baik…sebenarnya
sudah banyak kisah seperti ini, penulis itu punya keunikan masing masing, dan
pertanyaan terakhir saya, apa kelebihan cerita anda dibanding cerita yang
hampir mirip dengan cerita anda ini.”jelas hafizh