Biru yang dulu kau benci
Terkadang apa yang ingin kita katakan berbeda dengan apa yang kita selalu pikirkan,mungkin hal ini sama seperti yang ku alami,ingin hidup dalam kebohongan yang indah,karena kejujuran terlalu menyakitkan untuk di katakan…yah aku ingin terus hidup bahagia seperti ini tanpa harus berkata apa yang sebenarnya,
1 bulan sebelum aku mengetahui sesuatu
“ bagaimana sekolah baru mu?” Tanya ayahku sambil memulai sarapanya
“mm…yaa…terlalu membosankan.” Jelasku dengan terus mengunyah roti
“selalu begitu yang kau ucapkan,setelah 3 kali pindah sekolah apa,tak ada ucapan yang lebih baik daripada “membosankan” jelas ayahku kembali menatapku
“ sudah ku bilang bahwa perpindahan sekolah sekalipun tidak mengandung efek apapun.”jelasku beradu pandangan dengan ayahku
“ ah..sudahlah ayah benci berdebat dengan mu tentang ini,apapun konflik itu,perpindahan sekolah itu adalah yang untuk terakhir kalinya.” Jelasnya sedikit kesal dengan semua pendapatku tentang sekolah
“ terserah ayah juga kalau gitu.” Jelasku segera meninggalkan tempat makan
Tahun kemarin aku pindah dari sekolah karena di keluarkan akibat perkelahian ku dengan teman sebangku ku,hidupku terlalu rumit mungkin karena aku susah bergaul atau mereka yang tak pernah menganggapku ada,atau mereka benci kepadaku karena banyak siswi yang menaruh perasaan padaku,ku pikir itu bukan salahku.karena perasaan seseorang tak bisa di paksakan,itulah adalah lahiriyah dan bebas mengalir seperti air.
Di sekolah aku di kenal sebagai seseorang yang cerdas,walaupun aku lebih suka mendengarkan guru bercerita di banding pelajaran yang mereka bicarakan,mungkin ada satu sifat yang tak ku suka dari sikap ku,aku temperamental ketika menghadapi sesuatu,itulah yang menyebabkan aku di keluarkan tiga kali dari sekolah,aku tak pernah bisa mengendalikan emosi ketika banyak dari temanku yang mengejekku,entah apa yang mereka jadikan bahan ejekan,tetapi mereka selalu beranggapan bahwa nilai yang ku raih bukan dari hasil usahaku.hatiku tak pernah berdamai dengan cinta apalagi cinta yang di dapat dari orang tua seperti yang seharusnya di dapat seorang anak ,sejak kematian ibuku aku selalu merasa bahwa hidup ini terkadang membunuhku.
“ mau roti…..?” tanya seorang siswi yang menawariku
“mm…..nggak aku nggak lapar.” Jelasku terdiam menatapnya,pikiranku selalu di liputi kebencian,aku merasa bahwa gadis ini merasa kasihan padaku atau sama seperti siswi yang dulu sering aku temui di sekolah terdahulu..yaa..mungkin dia seperti mereka yang menyukaiku
“ dari mana asalmu…” jelasnya masih terdiam dan membolak balik bukunya sedari tadi
“ penting ya,,,untukmu?”jelas ku menghiraukan pandanganya
“ seorang teman itu pantas mendapatkan informasi tentang yang aku tanyakan ini….” Jelasnya kembali menatapku
“teman….aku rasa ,aku tak butuh teman….!” Jelasku naik darah
“ semua orang di dunia ini butuh itu…tanpa itu kamu akan kesepian,tidak bisa mencurahkan isi hati.”jawabnya dengan santai
“baik..makanan apa yang paling kau benci??’’ jelasnya masih menatapku
“knapa kau menanyakan hal-hal rumit bagiku?” jelasku kembali membaca komik ku
“ kamu yang membuat rumit….hanya tinggal menjawab makanan apa yang di benci kok susah.” Tegasnya
“ terong…aku benci makanan itu.” Jelasku semakin tak sabar
“oke…aku akan membuatkanya besok.” Jelasnya kemudian berlalu
Aku pikir menghiraukanya lebih baik daripada meladeni orang seperti itu,paling juga dia hanya guyonan mau membuatkan makanan seperti itu,aku selalu berpikir bahwa wanita yang mendekatiku bermotif sama,punya perasaan terhadapku,tetapi ternyata ada seseorang yang berbeda dari semuanya,berbeda dari sikap dan prasangka itu hanyalah prasangka semu belaka.
Pagi ini menurutku selalu sama seperti pagi-pagi sebelumnya tidak ada yang spesial,dan perasaanku masih jenuh tak berpindah.derap langkah kecil mulai mendekatiku,dan menyapa ku seperti senyum yang aku lihat pada hari kemarin.aku menatapnya lalu mulai mengalihkan pandangan pada kotak makanan yang di berikan untukku
“ apa ini” tanyaku masih tak mau mengambil kotak itu
“ ini,yang kemarin aku janjikan padamu,semoga kau menikmatinya…” jelasnya sambil tersenyum ,lalu meninggalkan kotak makanan itu di atas mejaku