Senin, 30 Maret 2015

Biru yang dulu ku benci

Biru yang dulu kau benci

Terkadang apa yang ingin kita katakan berbeda dengan apa yang kita selalu pikirkan,mungkin hal ini sama seperti yang ku alami,ingin hidup dalam kebohongan yang indah,karena kejujuran terlalu menyakitkan untuk di katakan…yah aku ingin terus hidup bahagia seperti ini tanpa harus berkata apa yang sebenarnya,

1 bulan sebelum aku mengetahui sesuatu

“ bagaimana sekolah baru mu?” Tanya ayahku sambil memulai sarapanya

“mm…yaa…terlalu membosankan.” Jelasku dengan terus mengunyah roti

“selalu begitu yang kau ucapkan,setelah 3 kali pindah sekolah apa,tak ada ucapan yang lebih baik daripada “membosankan” jelas ayahku kembali menatapku

“ sudah ku bilang bahwa perpindahan sekolah sekalipun tidak mengandung efek apapun.”jelasku beradu pandangan dengan ayahku

“ ah..sudahlah ayah benci berdebat dengan mu tentang ini,apapun konflik itu,perpindahan sekolah itu adalah yang untuk terakhir kalinya.” Jelasnya sedikit kesal dengan semua pendapatku tentang sekolah

“ terserah ayah juga kalau gitu.” Jelasku segera meninggalkan tempat makan

Tahun kemarin aku pindah dari sekolah karena di keluarkan akibat perkelahian ku dengan teman sebangku ku,hidupku terlalu rumit mungkin karena aku susah bergaul atau mereka yang tak pernah menganggapku ada,atau mereka benci kepadaku karena banyak siswi yang menaruh perasaan padaku,ku pikir itu bukan salahku.karena perasaan seseorang tak bisa di paksakan,itulah adalah lahiriyah dan bebas mengalir seperti air.

Di sekolah aku di kenal sebagai seseorang yang cerdas,walaupun aku lebih suka mendengarkan guru bercerita di banding pelajaran yang mereka bicarakan,mungkin ada satu sifat yang tak ku suka dari sikap ku,aku temperamental ketika menghadapi sesuatu,itulah yang menyebabkan aku di keluarkan tiga kali dari sekolah,aku tak pernah bisa mengendalikan emosi ketika banyak dari temanku yang mengejekku,entah apa yang mereka jadikan bahan ejekan,tetapi mereka selalu beranggapan bahwa nilai yang ku raih bukan dari hasil usahaku.hatiku tak pernah berdamai dengan cinta apalagi cinta yang di dapat dari orang tua seperti yang seharusnya di dapat seorang anak ,sejak kematian ibuku aku selalu merasa bahwa hidup ini terkadang membunuhku.

“ mau roti…..?” tanya seorang siswi yang menawariku

“mm…..nggak aku nggak lapar.” Jelasku terdiam menatapnya,pikiranku selalu di liputi kebencian,aku merasa bahwa gadis ini merasa kasihan padaku atau sama seperti siswi yang dulu sering aku temui di sekolah terdahulu..yaa..mungkin dia seperti mereka yang menyukaiku

“ dari mana asalmu…” jelasnya masih terdiam dan membolak balik bukunya sedari tadi

“ penting ya,,,untukmu?”jelas ku menghiraukan pandanganya

“ seorang teman itu pantas mendapatkan informasi tentang yang aku tanyakan ini….” Jelasnya kembali menatapku

“teman….aku rasa ,aku tak butuh teman….!” Jelasku naik darah

“ semua orang di dunia ini butuh itu…tanpa itu kamu akan kesepian,tidak bisa mencurahkan isi hati.”jawabnya dengan santai

“baik..makanan apa yang paling kau benci??’’ jelasnya masih menatapku

“knapa kau menanyakan hal-hal rumit bagiku?” jelasku kembali membaca komik ku

“ kamu yang membuat rumit….hanya tinggal menjawab makanan apa yang di benci kok susah.” Tegasnya

“ terong…aku benci makanan itu.” Jelasku semakin tak sabar

“oke…aku akan membuatkanya besok.” Jelasnya kemudian berlalu

Aku pikir menghiraukanya lebih baik daripada meladeni orang seperti itu,paling juga dia hanya guyonan mau membuatkan makanan seperti itu,aku selalu berpikir bahwa wanita yang mendekatiku bermotif sama,punya perasaan terhadapku,tetapi ternyata ada seseorang yang berbeda dari semuanya,berbeda dari sikap dan prasangka itu hanyalah prasangka semu belaka.

Pagi ini menurutku selalu sama seperti pagi-pagi sebelumnya tidak ada yang spesial,dan perasaanku masih jenuh tak berpindah.derap langkah kecil mulai mendekatiku,dan menyapa ku seperti senyum yang aku lihat pada hari kemarin.aku menatapnya lalu mulai mengalihkan pandangan pada kotak makanan yang di berikan untukku

“ apa ini” tanyaku masih tak mau mengambil kotak itu

“ ini,yang kemarin aku janjikan padamu,semoga kau menikmatinya…” jelasnya sambil tersenyum ,lalu meninggalkan kotak makanan itu di atas mejaku

Akhirnya pelangiku kembali

Akhirnya pelangiku kembali

Jam di tanganku berdetak lebih cepat,sedari tadi ini aku menunggu kakaku yang tak kunjung datang,beberapa menit kemudian aku menghela nafas lega,karena kakakku tepat berdiri di depanku

“ hi …bother..soo long to waiting you.” Jelasku dengan bermuka masam

“ sorry ,,tadi mas beli makanan dulu,karena bunda telepon,di rumah sedang ada tamu.” Jelas kakaku mengajakku naik mobil

“ tamu,,siapa mas? Jelas ku dengan mulai mengeluarkan kertas yang nantinya akan di edit

“temanya bunda,eh..kamu mau ke penerbit apa mau pulang?” jelas masku

“ pulang dulu lah mas,nanti fara naek angkot juga g papa ke penerbitnya.” Jelasku sambil tersenyum

Perjalanan panjang selalu menghadirkan berbagai potong kisah,terutama tentang keluarga yang sudah 5 tahun ini di tinggal ayah pergi,entah kemana,yang ku tau bunda hanya bercerita bahwa ayah sedang mencari nafkah di negri seberang sana,entah itu benar atau bunda hanya ingin melihatku dan masku tidak kecewa terhadap ayahku,alhasil kami semua mencoba untuk mencari uang sendiri untuk segala kebutuhan,daripada menunggu kiriman dari ayahku yang tak kunjung datang.walau begitu bunda masih percaya bahwa ayah sibuk bekerja di luar sana,bunda memang tegar,mencintai seseorang yang tak tau entah kemana.dan saat ini yang mampu ku torehkan untuk mencari uang adalah dengan menulis berbagai kisah yang aku imajinasikan dalam khayalku.

“dek,makananya di bawa yaa…mas mau langsung ke tempat kerja lagi.” Jelas masku tersenyum

“ oke..hati-hati yaa mas.” Jelasku juga kembali tersenyum

Ku lihat di depan halaman rumahku,ada mobil sedan putih ,aku pun bertanya-tanya sendiri,siapakah tamu ini,apa ayah yang telah kembali ,karena aku tak pernah melihat mobil ini datang ke rumahku sebelumya,jika ayahku kenapa mas akmal tidak bercerita akan kedatangan ayahku,entah jika itu ayahku,mungkin aku tak ingin menebar senyum kepadanya karena dia terlalu tega meninggalkan kami tanpa adanya kabar dari nya selama bertahun-tahun,aku belum berani memasuki ruang tamu,masih terdiam dengan khayalan tentang ayahku yang datang kembali,aih..lagi-lagi khayalanku tidak tepat pada saat ini,aku pun memberanikan masuk ruang tamu itu.
" assalamualaikum, bunda..." jelasku dengan perasaan gugup
" wa' alaikum salam,knapa berdiri saja..sini masuk." Jelas bundaku,tersenyum kepadaku.
Ku beranikan langkah ini memasuki ruang tamu dan ku mulai menatap wajah tamu yang berada tepat di depanku.
" fara.....sudah besar ya sekarang?? Tanya tamu itu seolah sudah lama mengenalnya
"Alhamdulilah, sekarang fara sudah memasuki masa kuliah." jelas ibunya sembari menyuruhku untuk duduk
Dihadapannya seorang wanita berumur sekitar 20 an memiliki wajah yang sendu ketika di pandang,suaranya tegas seperti prajurit wanita romawi zaman dahulu,kerudung pink yang ia kenakan menambah rona wajahnya yang berwarna sawo matang. wajahnya tampak tak asing baginya namun beberapa kali ia mengingat tak kunjung juga dirinya mengetahui nama gadis yang nampak sempurna ini
"Iya tante, maaf bun,fara harus langsung ke penerbit karena hari ini terakhir pengumpulan deadline." jelasnya dengan nada tergesa gesa karena tetiba bayangan deadline menghantui ingatanku
" ya sudah kalau begitu hati hati ya dijalan." jelas bunda sambil mengambil jajanan yang di berikan mas kepadaku
Panas nya kota jogja beberapa waktu ini membuat banyak orang untuk lebih melakukan aktivitas di dalam ruangan, begitu pula diriku yang lebih memilih naik angkot untuk ke penerbit di banding mengendarai motor yang ada di rumah. Terutama waktu siang,matahari seperti berada tepat di atas kepala ini. Teringat bunda jika dahulu dirinya sering mengeluh karena panas yang tak tertahankan pasti beliau selalu menasehati nya
                                 
    " nok, belum ke arab aja kok sudah sambat, di arab itu panasnya lebih daripada di sini." jelas bunda sambil geleng geleng kepala mendengar keluhan dirinya
     " ya udah bun, fara ke sana nya kalo arab udah dingin aja." jelasnya membalas komentar bunda
Di dalam angkot dia tertawa kecil ketika mengingat percakapan dirinya dengan bunda, semudah itu dahulu dia berkata padahal keadaan dan iklim tidak dapat berubah sesuai kehendak kita. Tanpa dia sadari supir angkot sudah mengetuk pintu angkot sambil menyebut nama redaksi yang ia tuju
  " assalamualaikum" sapanya ketika tiba di ujung bagian informasi
" waalaikum salam, ya Allah fara baru ini kamu keliatan." sahut mbk sofia yang biasa menjaga bag informasi dia pun langsung memeluk fara seakan seabad lamanya gadis ini tak berjumpa dengannya
" iya mbk lagi persiapan deadline di tambah kuliah lagi padat" jelasnya sambil tersenyum melihat tingkah laku mbk sofia
"Eh, iya lupa ra, selama kamu sebulan nggak ke sini,yang gantiin pak arya buat bagian publisher  itu mas hafizh."  Jelasnya sambil memberikan nomer antri kepada fara
" loh pak arya kemana mbk? Tanyanya penasaran  masih menunggu jawaban dari mbk sofia yang masih riweh dengan komputer yang ada di sampingnya
" ada kerjaan sementara di cilacap, tiba tiba tim redaksi minta beliau ke sana" jelas nya terdiam sesaat
" wah padahal pak arya berkompeten banget mbk, apalagi sama penulis naskah, dia bisa sangat mengayomi kita seperti keluarganya sendiri." sesal fara karena tidak sempat menemuinya sebelum beliau pergi
Pak aryo sangat baik di mata para karyawan redaksi, bahkan  penulis naskah pun selalu di bimbing dan di bantu layaknya saudara beliau.banyak yang merasa keberatan saat beliau tiba tiba  mendapat panggilan dari tim redaksi untuk di berangkatkan ke cilacap.
" ya udah, aku masuk dulu ya mbk." jelasnya tiba tiba sadar bahwa tujuan utamanya datang ke tempat ini untuk menghantarkan deadline
Fara melangkah dengan hati-hati, sesampainya di depan pintu, ia masih termangu dan bimbang antara ingin mengetuk atau mengurungkan niat
Namun, tampaknya dia tidak bisa menjadi pecundang begitu saja hanya karena kehadiran sang peneliti naskah yang baru

" assalamualaikum " sapanya dari luar sambil mengetuk pintu
" waalaikum salam" jelas orang di dalam, dia melangkah dan membuka pintu
Sejenak fara hanya tertegun ketika pintu di buka olehnya,mereka saling berhadapan , sesaat hening lalu mas hafizh  mempersilahkan masuk dan melangkah duduk kembali, menghiraukan dirinya yang di anggap asing oleh seseorang yang ada di hadapanya.
fara pun masih membisu dan masih belum melangkah masuk,keterasingan suhu pun tercipta di sekitar ruangan tersebut.
" mbk, ada urusan apa kemari? " jelas hafizh mengagetkan gadis yang masih termangu di depan ruanganya

" eh iya mas, perkenalkan saya fara, mau menyerahkan naskah yang hari ini di jadwalkan deadline" jelasnya sambil melangkah masuk
"Oh ya...silahkan duduk, maaf saya belum memperkenalkan diri saya, saya hafizh riswanto yang menggantikan pak aryo untuk sementara waktu." jelasnya
" iya, tadi mbk sofia sudah memberi tau kepada saya." jelas fara tersenyum agar mengurangi kecanggungan dirinya
" alhamdulilah, kalau begitu anda tidak perlu merasa asing pada saya." jelasnya sambil tertawa kecil, sadar bahwa fara merasa asing pada dirinya
"Maaf mas eh pak...sebenarnya deadline pengumpulan naskah ini sudah berakhir 2 minggu yang lalu, tapi saya meminta perpanjangan waktu kepada pak arya." jelasnya kebingungan memanggil orang yang ada di hadapanya
"Panggil mas saja nggak papa mbk, oh ya saya kemarin memang di titipi pesan oleh pak arya untuk menunggu deadline pengumpulan anda." jelasnya
"Oh alhamdulilah, kalau begitu ini flasdisk dan berkas berkasnya." jelasnya sambil menyerahkan map yang sedari tadi digemgamnya
"Oke, terimakasih, nanti kalau ada yang perlu di edit insha Allah saya langsung kabari anda." jelasnya
" baik mas, terimakasih kembali" jelas fara menutup pembicaraan mereka pada kali ini
Sistem di penerbit itu yang mengharuskan sang penulis untuk datang ke kantor penyebabnya karena  tidak jarang jika sang penulis mengirim naskah melalui email banyak kasus hacker dan juga terhapusnya beberapa email yang terkena  dampak dari pemalsuan penulisan selain itu juga agar penulis bersosialisasi dan srawung kepada para pegawai yang ada di kantor tersebut.

Sabtu, 28 Maret 2015

Ekonomi saat ini

Ketika banyak orang menyatakan bahwa,kenapa bank syariah di indonesia tidak dapat berjalan,jangan menyalahkan bank yang tidak berjalan

Kamis, 26 Maret 2015

English

English lesson this week
I am very happy,because i learn about many food,it is very delicious...but i sad because i got sick when i want passed my exam...i hope that be better than yesterday,thanks to Allah swt because he always give me strong...until the exam..the exam english lesson about past tense...i used to and the different between past tense and present prefect..in first section i listening my exam...is very  difficult,and the writing is very many..but alhamdulilah,i pass the exam,althought i dont know about the result. And  i learn about i am going to..about traveling...thanks miss for your teaching^_^¦¦¦

Jumat, 06 Maret 2015

Tugas bhasa inggris

Tugas b inggris http://islahunafs.blogspot.com/2015/03/tugas-b-inggris.html

Tugas b inggris

Bhs inggris
When i was child i did not use collect the comic books but now i dont collect  it, i did not like cook the food and now i like cook it,i always used to went with my friends,but now i dont have any free time,i used to play gobak sodor,now i dont have any free time,i never used to write story,but now i like to write it,i did not use to wear jelly shoes,now i wear it, i did not like korea drama and now i like it.i never use to speak english fluently and now i try to speak it.