Aku masih memandangi foto di dompet ku,tatapanku beralih kepada jam tanganku yang detiknya menunjukan hari telah beranjak meninggalkan pagi.tak tau kenapa ketika kelelahan menyiggahi diri ini,saat itu bayang-bayang kampung halaman melintas dalam benakku,tentang bangunannya,teriakan anak kecil memanggil temanya untuk pergi ke surau,dan kata-kata lembut dari seseorang yang selalu kurindu akan kehadirannya,ya dia bundaku..
2 tahun sebelum aku berada di negara perantauan ini.
" berdiam diri saja itu tak cukup loh nok." Jelas bundaku memanggil ku dengan sebutan kesayangan
" iya...pengenya juga cari ilmu nggak cuma satu bun,tapi beragam ilmu." Jelasku sambil mengaduk sup yang hangat.
"Terus mau lanjut ke mana..sia-sia udah di pondok tapi ilmunya nggak di pakai." Gumamnya
"Butuh kesabaran bundaku sayang ..buat nunggu pemberitauan dari sana." Timpalku sambil tersenyum mencairkan suasana
"Bunda mah nurut aja sama kamu,nok yang penting apa-apa atas ridho gusti Allah ." Jelasnya membalas senyumku
Lamunanku terhenti ketika tangan lara menepuk pundakku
" udah lama nunggunya rin??" Tanyanya dengan perasaan merasa bersalah
"Ya..ampun..bikin kaget aja...gimana ujiaanya?" Tanyaku
"Aku mah mau bilang alhamdulilah aja...serahkan segalanya pada Allah." Ucapnya sambil tersenyum
" jujur ya ,sebelum kamu datang, hati ini merindu rumah." Ucapku
" kok kamu seneng banget ya merindu kampung halaman, aku malah nggak suka mengingat kenangan di rumah."
" yaa aku tau alasanya....pulang aja yuk..hari sudah larut malam" sela ku mengalihkan pembicaraan
Lara pun beranjak dari tempat duduknya ,pipinya terlihat memerah karena salju yang turun menunjukan derajat yang lumayan tinggi.saat perjalanan kembali ke flat ,memory ku menerawang kembali ke kampung halaman,walaupun dahulu aku selalu bermimpi untuk bermain-main di salju,membuat gumpalan tembakan-tembakan salju,namun ternyata saat ini aku malah merindukan bagian dimana saat hujan turun mengguyur seluruh ladang di sekitar rumah ku,celotehan anak-anak kecil bermain dengan genangan air,mereka senang berteduh di depan rumah ku,karena tepat di depan rumahku ada sepetak tempat yang tertutup .biasanya tempat itu untuk aku gunakan berolahraga badminton bersama ayah.senangnya ketika melihat senyum manis tersungging di bibir anak-anak menandakan kepuasan bermain mereka di waktu hujan,bersama dengan berhentinya hujan secercah pelangi melengkapi karunia Allah sore itu.aku selalu bahagia ketika melihat pohon-pohon terlihat segar kembali setelah setengah hari di terpa sinar matahari.
"Rin...ada surat..liatin di kotak pos ..,dari siapa ya kira2?tanya lara mengagetkanku ketika tak terasa kaki ini telah melangkah jauh sampai ke depan flat.
" iya....aku ambilin..."jelasku
"Dari siapa ya surat nya,rin? Gumamnya sambil menatap sepucuk surat yang masih ada di genggamanku
"Dari ibumu...ra" jelasku menyodorkan surat itu
" hm....udah lama ibu nggak ngirim surat kayak gini,ada apa ya?? Jelasnya sambil mulai membuka amplop
" g knapa- knapa mungkin lagi rindu sama buah hatinya" jelas ku ,menuangkan teh di gelasnya
" ibu..ibu.. terlalu mencemaskan aku, apa- apa ditanyakan,dari bagaimana makanan nya, tempat tinggal, kuliah nya rumit atau tidak..padahal aku ini udah dewasa loh,rin" gerutunya sambil melipat surat kembali.
" kadang -kadang anak itu tidak mengerti." Gumamku
" maksutnya?" Tanyanya
"Kita mungkin kadang berfikir bahwa,kita sudah tak perlu lagi mendengar pertanyaan dari ibu kita, tetapi suatu saat nanti ketika tidak ada lagi celotehan darinya,kita baru menyadari bahwa kita rindu denganya,kita masih butuh segala nasehat darinya."jelas ku sambil menatap keluar jendela
"Sebenarnya aku masih belum bisa memaknai satu persatu kata yang kamu barusan bilang,tapi setahun kita tinggal bareng,boleh lah aku mendengar cerita tentang bundamu.....,tapi g papa kalo belum mau cerita." Jelas nya sambil meneguk teh
" oh iya aku g pernah cerita tentang ibuku ya....," jelas ku
" satu tahun sebelum aku berada di sini adalah masa-masa sulit untukku." Ucap ku memulai cerita
" udah ada kabar?" Tanya bundaku
" belum,bun....enaknya gimana ya..?" Timpalku kembali
"Bunda terserah aja sama ririn,insha Allah pasti ada jalan." Jelasnya sambil tersenyum
Ku tatap wajah nya dalam-dalam,di saat genting seperti ini,dengan keadaan bunda yang rentan.Dia masih dapat tersenyum kepadaku.tanpa mengeluhkan rasa sakitnya sedikitpun.
"Bunda...tanya kok malah diam,rin?" Tanyanya
" bunda ...dah makan belum?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan
"Kamu..ini..bunda tanya apa..jawabnya apa." Jelas bunda ku
" ririn malah pengen jaga bunda aja sampai bunda sembuh." Jelas ku
"Kan ada ayah,udah tentuin dulu mau kemana." Sergahnya menenangkanku
"Iya..nanti Ririn pikirin,gimana baiknya aja." Jelas ku
Hidup selalu menyimpan rahasia nya,selama kurang lebih 2 bulan ini bunda menghabiskan waktunya keluar masuk rumah sakit,di karenakan dokter mendiagnosa tentang penyakit yang lumayan parah itu,sebenarnya hati ini tak kuat melihat penderitaan yang di alaminya,ingin rasanya aku saja yang menggantikan posisi bundaku.
"Penyakit itu datang dari Allah untuk menguji hambaNya bukan karena benci ,tapi karena sayang...." jelas bundaku menasehatiku
"Tau kok bun....tapi terkadang hambaNya juga susah untuk menerima itu." Jelas ku sambil menuangkan bubur
"Segala sesuatu di terima aja,nok..Allah tau yang terbaik." Jelas nya
Aku pun mengangguk tanda setuju, tapi ada keganjalan dari suara bundaku seakan-akan diri ini tidak akan lama lagi bersamanya,
11 februari 2006
" bu...niki kulo ajeng ngabari,nek adik kulo pun di pundut seng maha kuasa." Ucap budeku sesenggukan,mata ini terbangun saat mendengar percakapan itu.perih hati ini mendengarnya,dunia serasa menghatam tubuhku berkali-kali.saat itu aku merasa
terkadang kita tak sempat berpikir,tak mampu berkata-kata lebih saat tamu yang bernama ajal itu datang,waktu itu aku merasa kedua kakiku tidak dapat menopang badanku,aku belum memahami arti kematian yang sebenarnya,hal yang ku pikirkan bahwa dunia tidak adil
"Dek...yang sabar" seru mbak sepupuku yang membuka pintu kamarku dan langsung memelukku erat.tangis haru pecah di keluarga besar ku,beribu-ribu orang datang dengan berbagi kata penyemangat untukku,namun kata-kata itu tidak mempengaruhiku sama sekali.
"Rin....ini ada surat di depan pintu." Jelas ayahku
"Dari siapa ,yah?" Tanyaku yang masih larut dalam kesedihan
"Coba buka aja,ayah nggak baca tadi." Jelasnya sambil meneguk segelas kopi
Surat itu tampak sepeti surat formal..karena tertulis dari kementerian agama,aku mengernyitkan dahi saat membaca pengirimnya.aku tidak memiliki rasa penasaran sedikitpun saat melihat surat itu,karena pikiranku masih menyesali kepergian bunda.
Saat ku teliti isi surat tersebut,perasaan bingung,sedih,bahagia bercampur aduk.ternyata itu adalah surat pemberitahuan bahwa aku lolos seleksi beasiswa ke negri dua benua atau turki.sedih karena aku tak bisa memberikan kado ini kepada bunda..bahagia karena akhirnya aku dapat meneruskan studi ke negri itu.
Awalnya aku bersikeras tak ingin pergi ke sana karena tak ada gunanya...orang yang ingin kutunjukan tentang berita bahagia ini telah pergi meninggalkanku,tetapi akhirnya aku luluh setelah mengalami perdebatan panjang lebar dengan ayah ku
"
Jumat, 06 Februari 2015
Memilikinya anugrah terindah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar