Senin, 30 Maret 2015

Akhirnya pelangiku kembali

Akhirnya pelangiku kembali

Jam di tanganku berdetak lebih cepat,sedari tadi ini aku menunggu kakaku yang tak kunjung datang,beberapa menit kemudian aku menghela nafas lega,karena kakakku tepat berdiri di depanku

“ hi …bother..soo long to waiting you.” Jelasku dengan bermuka masam

“ sorry ,,tadi mas beli makanan dulu,karena bunda telepon,di rumah sedang ada tamu.” Jelas kakaku mengajakku naik mobil

“ tamu,,siapa mas? Jelas ku dengan mulai mengeluarkan kertas yang nantinya akan di edit

“temanya bunda,eh..kamu mau ke penerbit apa mau pulang?” jelas masku

“ pulang dulu lah mas,nanti fara naek angkot juga g papa ke penerbitnya.” Jelasku sambil tersenyum

Perjalanan panjang selalu menghadirkan berbagai potong kisah,terutama tentang keluarga yang sudah 5 tahun ini di tinggal ayah pergi,entah kemana,yang ku tau bunda hanya bercerita bahwa ayah sedang mencari nafkah di negri seberang sana,entah itu benar atau bunda hanya ingin melihatku dan masku tidak kecewa terhadap ayahku,alhasil kami semua mencoba untuk mencari uang sendiri untuk segala kebutuhan,daripada menunggu kiriman dari ayahku yang tak kunjung datang.walau begitu bunda masih percaya bahwa ayah sibuk bekerja di luar sana,bunda memang tegar,mencintai seseorang yang tak tau entah kemana.dan saat ini yang mampu ku torehkan untuk mencari uang adalah dengan menulis berbagai kisah yang aku imajinasikan dalam khayalku.

“dek,makananya di bawa yaa…mas mau langsung ke tempat kerja lagi.” Jelas masku tersenyum

“ oke..hati-hati yaa mas.” Jelasku juga kembali tersenyum

Ku lihat di depan halaman rumahku,ada mobil sedan putih ,aku pun bertanya-tanya sendiri,siapakah tamu ini,apa ayah yang telah kembali ,karena aku tak pernah melihat mobil ini datang ke rumahku sebelumya,jika ayahku kenapa mas akmal tidak bercerita akan kedatangan ayahku,entah jika itu ayahku,mungkin aku tak ingin menebar senyum kepadanya karena dia terlalu tega meninggalkan kami tanpa adanya kabar dari nya selama bertahun-tahun,aku belum berani memasuki ruang tamu,masih terdiam dengan khayalan tentang ayahku yang datang kembali,aih..lagi-lagi khayalanku tidak tepat pada saat ini,aku pun memberanikan masuk ruang tamu itu.
" assalamualaikum, bunda..." jelasku dengan perasaan gugup
" wa' alaikum salam,knapa berdiri saja..sini masuk." Jelas bundaku,tersenyum kepadaku.
Ku beranikan langkah ini memasuki ruang tamu dan ku mulai menatap wajah tamu yang berada tepat di depanku.
" fara.....sudah besar ya sekarang?? Tanya tamu itu seolah sudah lama mengenalnya
"Alhamdulilah, sekarang fara sudah memasuki masa kuliah." jelas ibunya sembari menyuruhku untuk duduk
Dihadapannya seorang wanita berumur sekitar 20 an memiliki wajah yang sendu ketika di pandang,suaranya tegas seperti prajurit wanita romawi zaman dahulu,kerudung pink yang ia kenakan menambah rona wajahnya yang berwarna sawo matang. wajahnya tampak tak asing baginya namun beberapa kali ia mengingat tak kunjung juga dirinya mengetahui nama gadis yang nampak sempurna ini
"Iya tante, maaf bun,fara harus langsung ke penerbit karena hari ini terakhir pengumpulan deadline." jelasnya dengan nada tergesa gesa karena tetiba bayangan deadline menghantui ingatanku
" ya sudah kalau begitu hati hati ya dijalan." jelas bunda sambil mengambil jajanan yang di berikan mas kepadaku
Panas nya kota jogja beberapa waktu ini membuat banyak orang untuk lebih melakukan aktivitas di dalam ruangan, begitu pula diriku yang lebih memilih naik angkot untuk ke penerbit di banding mengendarai motor yang ada di rumah. Terutama waktu siang,matahari seperti berada tepat di atas kepala ini. Teringat bunda jika dahulu dirinya sering mengeluh karena panas yang tak tertahankan pasti beliau selalu menasehati nya
                                 
    " nok, belum ke arab aja kok sudah sambat, di arab itu panasnya lebih daripada di sini." jelas bunda sambil geleng geleng kepala mendengar keluhan dirinya
     " ya udah bun, fara ke sana nya kalo arab udah dingin aja." jelasnya membalas komentar bunda
Di dalam angkot dia tertawa kecil ketika mengingat percakapan dirinya dengan bunda, semudah itu dahulu dia berkata padahal keadaan dan iklim tidak dapat berubah sesuai kehendak kita. Tanpa dia sadari supir angkot sudah mengetuk pintu angkot sambil menyebut nama redaksi yang ia tuju
  " assalamualaikum" sapanya ketika tiba di ujung bagian informasi
" waalaikum salam, ya Allah fara baru ini kamu keliatan." sahut mbk sofia yang biasa menjaga bag informasi dia pun langsung memeluk fara seakan seabad lamanya gadis ini tak berjumpa dengannya
" iya mbk lagi persiapan deadline di tambah kuliah lagi padat" jelasnya sambil tersenyum melihat tingkah laku mbk sofia
"Eh, iya lupa ra, selama kamu sebulan nggak ke sini,yang gantiin pak arya buat bagian publisher  itu mas hafizh."  Jelasnya sambil memberikan nomer antri kepada fara
" loh pak arya kemana mbk? Tanyanya penasaran  masih menunggu jawaban dari mbk sofia yang masih riweh dengan komputer yang ada di sampingnya
" ada kerjaan sementara di cilacap, tiba tiba tim redaksi minta beliau ke sana" jelas nya terdiam sesaat
" wah padahal pak arya berkompeten banget mbk, apalagi sama penulis naskah, dia bisa sangat mengayomi kita seperti keluarganya sendiri." sesal fara karena tidak sempat menemuinya sebelum beliau pergi
Pak aryo sangat baik di mata para karyawan redaksi, bahkan  penulis naskah pun selalu di bimbing dan di bantu layaknya saudara beliau.banyak yang merasa keberatan saat beliau tiba tiba  mendapat panggilan dari tim redaksi untuk di berangkatkan ke cilacap.
" ya udah, aku masuk dulu ya mbk." jelasnya tiba tiba sadar bahwa tujuan utamanya datang ke tempat ini untuk menghantarkan deadline
Fara melangkah dengan hati-hati, sesampainya di depan pintu, ia masih termangu dan bimbang antara ingin mengetuk atau mengurungkan niat
Namun, tampaknya dia tidak bisa menjadi pecundang begitu saja hanya karena kehadiran sang peneliti naskah yang baru

" assalamualaikum " sapanya dari luar sambil mengetuk pintu
" waalaikum salam" jelas orang di dalam, dia melangkah dan membuka pintu
Sejenak fara hanya tertegun ketika pintu di buka olehnya,mereka saling berhadapan , sesaat hening lalu mas hafizh  mempersilahkan masuk dan melangkah duduk kembali, menghiraukan dirinya yang di anggap asing oleh seseorang yang ada di hadapanya.
fara pun masih membisu dan masih belum melangkah masuk,keterasingan suhu pun tercipta di sekitar ruangan tersebut.
" mbk, ada urusan apa kemari? " jelas hafizh mengagetkan gadis yang masih termangu di depan ruanganya

" eh iya mas, perkenalkan saya fara, mau menyerahkan naskah yang hari ini di jadwalkan deadline" jelasnya sambil melangkah masuk
"Oh ya...silahkan duduk, maaf saya belum memperkenalkan diri saya, saya hafizh riswanto yang menggantikan pak aryo untuk sementara waktu." jelasnya
" iya, tadi mbk sofia sudah memberi tau kepada saya." jelas fara tersenyum agar mengurangi kecanggungan dirinya
" alhamdulilah, kalau begitu anda tidak perlu merasa asing pada saya." jelasnya sambil tertawa kecil, sadar bahwa fara merasa asing pada dirinya
"Maaf mas eh pak...sebenarnya deadline pengumpulan naskah ini sudah berakhir 2 minggu yang lalu, tapi saya meminta perpanjangan waktu kepada pak arya." jelasnya kebingungan memanggil orang yang ada di hadapanya
"Panggil mas saja nggak papa mbk, oh ya saya kemarin memang di titipi pesan oleh pak arya untuk menunggu deadline pengumpulan anda." jelasnya
"Oh alhamdulilah, kalau begitu ini flasdisk dan berkas berkasnya." jelasnya sambil menyerahkan map yang sedari tadi digemgamnya
"Oke, terimakasih, nanti kalau ada yang perlu di edit insha Allah saya langsung kabari anda." jelasnya
" baik mas, terimakasih kembali" jelas fara menutup pembicaraan mereka pada kali ini
Sistem di penerbit itu yang mengharuskan sang penulis untuk datang ke kantor penyebabnya karena  tidak jarang jika sang penulis mengirim naskah melalui email banyak kasus hacker dan juga terhapusnya beberapa email yang terkena  dampak dari pemalsuan penulisan selain itu juga agar penulis bersosialisasi dan srawung kepada para pegawai yang ada di kantor tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar